No products in the cart.

Kenapa Label Bintang pada AC Itu Penting?
Cara Baca Label Hemat Energi AC: Arti Bintang dan Nilai CSPF – Saat memilih AC baru, banyak orang di Bogor, Cibinong, dan Depok lebih fokus melihat harga dan merek. Padahal ada satu informasi kecil yang sering diabaikan padahal berdampak besar ke tagihan listrik setiap bulan: label tanda hemat energi. Label inilah yang menentukan apakah AC pilihan Anda benar-benar irit atau justru boros diam-diam.
Di tahun 2026 ini, memahami label hemat energi bukan lagi pilihan — ini sudah jadi kebutuhan. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian ESDM telah memperketat regulasi standar efisiensi AC, termasuk menghapus peredaran AC bintang 1 sejak Oktober 2024. Artinya, semua AC yang beredar di pasaran sekarang wajib memenuhi standar efisiensi minimum tertentu.
Artikel ini akan membantu Anda memahami arti bintang pada label AC, apa itu CSPF, bagaimana cara membaca nilainya, hingga hubungannya dengan teknologi inverter — semua disajikan secara praktis agar keputusan beli AC berikutnya lebih cerdas dan tidak bikin dompet menangis.
Apa Itu Label Tanda Hemat Energi (LTHE)?

Label Tanda Hemat Energi atau LTHE adalah label resmi yang wajib ditempelkan pada setiap unit AC yang dijual di Indonesia. Label ini biasanya berbentuk stiker berisi gambar bintang, nilai CSPF, serta informasi kapasitas pendinginan. Anda bisa menemukannya di unit indoor AC atau pada kemasan kotak produk.
Menurut Kementerian ESDM, Indonesia telah menerapkan program SKEM (Standar Kinerja Energi Minimum) untuk AC sejak tahun 2015 melalui Permen ESDM 7/2015, dan terus diperbarui hingga kini. Tujuannya jelas: melindungi konsumen dari produk boros energi sekaligus menjaga lingkungan dari emisi karbon berlebih.
Dengan adanya LTHE, konsumen tidak perlu jadi ahli teknik untuk menilai efisiensi sebuah AC. Cukup lihat jumlah bintang dan angka CSPF — dua indikator utama yang menjadi acuan dalam memilih AC hemat energi di pasaran Indonesia saat ini.
Arti Bintang pada AC: Dari 1 hingga 5

Sistem penilaian bintang pada AC bekerja sederhana: semakin banyak bintang, semakin hemat energi unit tersebut. Di Indonesia, skala bintang berkisar dari 1 hingga 5, dengan 5 bintang sebagai level efisiensi tertinggi.
Menurut Ketua Forum Kelompok Sadar Hemat Energi (KSHE), Herlin Herlianika, semakin banyak bintang yang terlihat pada unit AC, semakin hemat konsumsi listriknya. Regulasi terbaru bahkan menetapkan bahwa bintang 2 kini menjadi standar minimum yang diizinkan beredar di Indonesia sejak Oktober 2024.
- Bintang 2 — Standar minimum yang diizinkan beredar. Efisiensi dasar, cocok untuk kebutuhan sesekali dengan durasi pemakaian pendek.
- Bintang 3 — Efisiensi menengah. Pilihan umum di pasaran dengan harga yang lebih terjangkau, cocok untuk kamar tidur dengan pemakaian beberapa jam per hari.
- Bintang 4 — Efisiensi tinggi. Cocok untuk penggunaan harian di rumah tangga aktif yang menyalakan AC setiap malam.
- Bintang 5 — Efisiensi tertinggi. Ideal untuk AC yang menyala panjang setiap hari, tagihan listrik lebih hemat secara signifikan dalam jangka panjang.
Menurut tokoprogress.com, untuk rumah tangga di wilayah Bogor, Depok, dan Cibinong yang menggunakan AC lebih dari 8 jam sehari, investasi pada AC bintang 4 atau 5 sangat sepadan karena selisih penghematan listrik bulanannya bisa menutupi selisih harga beli dalam waktu 1–2 tahun.
Apa Itu CSPF dan Mengapa Lebih Akurat dari EER?
CSPF adalah singkatan dari Cooling Seasonal Performance Factor. Secara sederhana, CSPF mengukur seberapa efisien sebuah AC dalam menghasilkan pendinginan per watt listrik yang dikonsumsinya — bukan hanya dalam kondisi ideal, tapi sepanjang musim pendinginan yang mencerminkan kondisi pemakaian nyata sehari-hari.
Sebelumnya, efisiensi AC diukur menggunakan EER (Energy Efficiency Ratio) — rasio antara kapasitas pendinginan dalam BTU/jam dan konsumsi daya dalam watt pada kondisi tertentu. Masalahnya, EER hanya mengukur performa di satu titik kondisi suhu saja, sehingga kurang mencerminkan efisiensi nyata dalam pemakaian harian yang suhu luarnya terus berubah.
Menurut Direktorat EBTKE Kementerian ESDM, CSPF lebih representatif karena menghitung performa AC secara musiman, bukan hanya pada satu kondisi suhu tertentu. Inilah mengapa regulasi SKEM Indonesia kini menggunakan CSPF sebagai acuan utama, bukan EER.
Berikut tabel nilai CSPF per tingkat bintang yang berlaku saat ini, berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 134.K/EK.07/DJE/2023:
| Jumlah Bintang | Rentang Nilai CSPF | Kategori Efisiensi |
|---|---|---|
| ⭐⭐ (2 Bintang) | 3,40 ≤ CSPF < 3,80 | Standar Minimum |
| ⭐⭐⭐ (3 Bintang) | 3,80 ≤ CSPF < 4,20 | Menengah |
| ⭐⭐⭐⭐ (4 Bintang) | 4,20 ≤ CSPF < 5,00 | Tinggi |
| ⭐⭐⭐⭐⭐ (5 Bintang) | CSPF ≥ 5,00 | Sangat Tinggi |
Artinya, semakin tinggi angka CSPF, semakin banyak pendinginan yang dihasilkan per watt listrik yang digunakan. AC dengan CSPF 5,5 jauh lebih efisien dibanding AC dengan CSPF 3,5, meski keduanya mungkin punya kapasitas BTU yang sama.
Baca Juga: Panduan Memilih AC Hemat Listrik untuk Keluarga
Hubungan CSPF dengan Teknologi Inverter

Salah satu alasan mengapa AC inverter identik dengan efisiensi tinggi adalah karena teknologi ini secara langsung berkontribusi pada nilai CSPF yang lebih baik. AC non-inverter bekerja dengan sistem on/off: kompresor mati saat suhu target tercapai, lalu menyala lagi ketika ruangan mulai hangat. Siklus ini mengonsumsi energi lebih besar karena setiap kali start, kompresor membutuhkan lonjakan daya yang tidak kecil.
Sementara AC inverter mengatur kecepatan kompresor secara variabel — melambat saat suhu sudah tercapai, dan mempercepat saat beban pendinginan meningkat. Hasilnya, konsumsi listrik lebih stabil dan efisien, terutama pada pemakaian jangka panjang.
Menurut data dari Direktorat EBTKE Kementerian ESDM, efisiensi median AC inverter mencapai CSPF 4,81 W/W, sementara AC kecepatan tetap (non-inverter) hanya berada di angka CSPF 3,49 W/W. Perbedaan ini cukup signifikan untuk terasa di tagihan listrik bulanan, apalagi jika AC digunakan setiap hari.
Untuk keluarga di Depok, Bogor, dan Cibinong yang menyalakan AC hampir setiap malam karena cuaca lembap dan panas, memilih AC inverter dengan CSPF di atas 4,5 bisa menghasilkan penghematan yang terasa nyata — bukan sekadar klaim di brosur.
Cara Praktis Membaca Label Hemat Energi di Toko atau Online
Sekarang, bagaimana cara membacanya secara praktis saat Anda ada di toko elektronik atau melihat produk secara online? Berikut langkah mudahnya:
- Cari stiker LTHE — biasanya ada di bagian depan unit indoor atau pada karton kemasan. Warnanya mencolok dengan gambar bintang besar yang mudah dilihat.
- Hitung jumlah bintang — ini indikator paling cepat. Untuk penggunaan harian, minimal pilih 4 bintang agar efisiensi benar-benar terasa.
- Lihat angka CSPF — angka ini biasanya tercantum di bawah gambar bintang. Semakin tinggi, semakin baik. Angka di atas 5,0 masuk kategori sangat efisien.
- Cek kapasitas BTU/h — pastikan sesuai luas ruangan. AC dengan CSPF tinggi tapi kapasitas tidak pas justru akan bekerja lebih keras dan tetap boros.
- Perhatikan tipe inverter atau non-inverter — AC inverter hampir selalu punya CSPF lebih tinggi dan lebih cocok untuk pemakaian rutin jangka panjang.
Menurut YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia), LTHE adalah jaminan dari produsen kepada konsumen yang diawasi langsung oleh pemerintah, bahwa produk tersebut memenuhi standar keamanan dan efisiensi energi yang ditetapkan. Jadi, jangan lewatkan label ini saat berbelanja.
Kesalahan Umum Saat Membeli AC Berdasarkan Label Bintang
Meski sistem bintang terbilang mudah dipahami, masih banyak pembeli yang terjebak kesalahan yang sama. Berikut beberapa jebakan yang sering terjadi:
- Hanya lihat bintang, abaikan nilai CSPF — dua AC sama-sama berbintang 4 bisa punya CSPF yang berbeda, misalnya 4,2 vs 4,8. Yang lebih tinggi jelas lebih hemat dalam pemakaian nyata.
- Pilih AC murah bintang rendah, anggap lebih hemat — harga beli memang lebih murah, tapi biaya listrik per bulan bisa jauh lebih tinggi dalam jangka panjang sehingga total pengeluaran justru lebih besar.
- Tidak menyesuaikan kapasitas dengan luas ruangan — AC 1 PK bintang 5 di ruangan 30 m² tetap akan boros karena kompresor harus bekerja terus-menerus untuk mendinginkan ruang yang terlalu besar.
- Mengira semua AC inverter otomatis hemat — inverter memang lebih efisien secara teknologi, tapi nilai CSPF tetap harus dicek karena kualitas komponen antarmerek dan antarmodel bisa berbeda cukup jauh.
Menurut Koordinator Pengawasan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Endra Dedy Tamtama, dengan regulasi phase out AC bintang 1, pemerintah berharap konsumen Indonesia terlindungi dari produk boros energi sekaligus mendorong industri untuk memproduksi unit yang lebih efisien.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Muncul
Q: Apakah AC bintang 1 masih boleh dijual di toko?
A: Tidak. Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 134.K/EK.07/DJE/2023 yang berlaku sejak Oktober 2024, AC bintang 1 tidak lagi diizinkan diproduksi maupun beredar di Indonesia. Standar minimum yang berlaku kini adalah bintang 2 dengan nilai CSPF minimal 3,40.
Q: Apa bedanya CSPF dan EER?
A: EER mengukur efisiensi AC hanya pada satu kondisi suhu tertentu, sementara CSPF menghitung efisiensi secara musiman yang mencerminkan kondisi pemakaian nyata. CSPF dianggap lebih akurat untuk menggambarkan performa AC dalam penggunaan sehari-hari di iklim tropis seperti Indonesia.
Q: Berapa nilai CSPF minimum yang disarankan untuk rumah tangga?
A: Untuk penggunaan harian, disarankan memilih AC dengan CSPF minimal 4,2 setara bintang 4. Jika AC digunakan lebih dari 8 jam per hari, pilih CSPF di atas 5,0 (bintang 5) untuk penghematan listrik yang lebih terasa setiap bulannya.
Q: Apakah AC inverter selalu punya CSPF lebih tinggi?
A: Umumnya ya. Teknologi inverter yang mengatur kecepatan kompresor secara variabel membuat efisiensi musiman lebih baik. Namun tetap cek angka CSPF pada label, karena kualitas komponen antarmerek dan antarmodel bisa berbeda.
Q: Apakah label bintang yang sama berarti tagihan listriknya juga sama?
A: Belum tentu. Selain nilai CSPF, tagihan listrik juga dipengaruhi kapasitas AC dalam PK, luas ruangan, durasi pemakaian, pengaturan suhu, dan kondisi instalasi. AC bintang 5 dengan kapasitas tidak sesuai ruangan tetap bisa boros.
Q: Di mana letak label hemat energi pada unit AC?
A: Label LTHE biasanya tertempel pada bagian depan unit indoor atau pada karton kemasan. Isi label mencakup jumlah bintang, nilai CSPF, kapasitas pendinginan, dan informasi konsumsi daya.
Q: Apakah AC dengan CSPF tinggi selalu lebih mahal?
A: Harga beli biasanya memang sedikit lebih tinggi. Namun dalam jangka panjang, selisih harga tersebut bisa tertutupi dari penghematan tagihan listrik bulanan, terutama jika AC digunakan rutin setiap hari selama bertahun-tahun.
Jadikan CSPF sebagai Acuan Utama Saat Beli AC
Label bintang dan nilai CSPF bukan sekadar angka dekoratif pada kemasan. Keduanya adalah panduan nyata yang bisa membantu Anda membuat keputusan pembelian yang lebih cerdas — terutama jika AC akan digunakan intensif di rumah, kos, atau kantor di wilayah beriklim lembap seperti Bogor, Cibinong, dan Depok.
Intinya: minimal pilih AC bintang 4 dengan CSPF di atas 4,2 untuk penggunaan harian. Jika AC menyala panjang setiap hari, naik ke bintang 5 adalah investasi yang membayar dirinya sendiri lewat tagihan listrik yang lebih rendah setiap bulan.
Punya pengalaman memilih AC berdasarkan label bintang? Atau masih bingung membandingkan dua model? Tinggalkan komentar di bawah — kami siap membantu menemukan pilihan yang paling sesuai kebutuhan dan anggaran Anda.
Bagi warga Bogor, Cibinong, Depok, dan sekitarnya yang ingin membeli AC dengan spesifikasi CSPF terbaik, kunjungi tokoprogress.com — produk original, garansi resmi, dan pengiriman cepat langsung ke rumah Anda. Pilih cerdas sekarang, nikmati hemat setiap bulan.
Referensi
Sumber: Kementerian ESDM RI – Tingkatkan Efisiensi Energi, Pemerintah Terus Perbarui Nilai SKEM
Sumber: Kompas Lestari – Mulai 2024, AC Bintang 1 Tak Boleh Beredar Lagi di Indonesia


